Istilah Syiah sering muncul ketika membahas Iran, Karbala, atau Ahlul Bait. Sebagian orang menganggap Syiah hanyalah salah satu mazhab dalam Islam. Sebagian lainnya menganggapnya sebagai kelompok politik. Namun jika kita melihat lebih jauh, ternyata banyak ulama yang mengkafirkan Syiah. Lalu sebenarnya, apa itu Syiah — dan dari mana asalnya?
Apa Itu “Syiah” — dan Apakah Sudah Ada di Zaman Nabi ﷺ?
Secara bahasa, kata syiah digunakan untuk menyebut pengikut, pendukung, atau pembela seseorang. Dahulu istilah ini dipakai secara umum di kalangan orang Arab untuk siapa saja yang mendukung tokoh tertentu. Namun seiring waktu, istilah ini digunakan secara khusus untuk kelompok yang mengaku mencintai dan membela Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu serta Ahlul Bait Nabi ﷺ.
Pertanyaan penting yang perlu dijawab: apakah Syiah sudah ada sejak zaman Rasulullah ﷺ? Jawabannya tidak. Syiah sebagai kelompok dengan keyakinan tertentu — seperti imamah, imam maksum, dan ajaran Rafidhah — tidak dikenal di masa Nabi ﷺ. Tidak ada satu pun kelompok di zaman beliau yang memiliki keyakinan semacam itu.
Syiah adalah kelompok baru yang muncul puluhan tahun setelah wafatnya Nabi ﷺ, ketika berbagai fitnah politik dan penyimpangan akidah mulai bermunculan di tengah kaum muslimin.
Siapa Abdullah bin Saba’ — dan Apa Hubungannya dengan Syiah?
Dalam pembahasan awal kemunculan Syiah, nama Abdullah bin Saba’ tidak bisa diabaikan. Yang membuat fakta ini semakin kuat: sumber yang menyebutnya bukan musuh Syiah, melainkan buku-buku Syiah itu sendiri.
Dua tokoh besar keilmuan Syiah mencatatnya secara terang-terangan — Muhammad Hasan ath-Thusi dalam Ikhtiyar Ma‘rifah ar-Rijal (hlm. 101–102), dan al-Hasan bin Musa an-Nubakhati dalam Firaqi asy-Syiah (hlm. 19–20).
Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi dari Shan’a, Yaman, yang berpura-pura masuk Islam pada akhir masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Ia kemudian menyebarkan pahamnya dari satu negeri ke negeri lain — Hijaz, Bashrah, Kufah, hingga Syam.
Di setiap tempat, ia menanamkan satu keyakinan: bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu memiliki wasiat khusus untuk memimpin umat. Ia juga memprovokasi rakyat terhadap para shahabat dan menyebarkan fitnah tentang pemerintahan yang sah, hingga berujung pada terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang sedang membaca Al-Qur’an.
(Lihat: al-Bidayah wan-Nihayah, 7/315; Tarikh ath-Thabari, 2/647)
Mengapa Iran Sangat Identik dengan Syiah?
Ketika mendengar kata Syiah, banyak orang langsung teringat kepada Iran. Ini bukan tanpa alasan — Iran modern memang menjadikan Syiah Itsna ‘Asyariyyah sebagai mazhab resmi negara.
Namun hubungan antara Persia dan Syiah memiliki sejarah yang jauh lebih panjang dari sekadar keputusan politik modern.
Setelah runtuhnya Kerajaan Persia di tangan kaum muslimin pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, muncul berbagai gerakan perlawanan dari sisa-sisa bangsa Persia.
Dalam perjalanan sejarah berikutnya, berdirilah kerajaan-kerajaan bercorak Syiah hingga akhirnya Dinasti Safawi menjadikan Syiah sebagai mazhab resmi di wilayah Persia — yang kini kita kenal sebagai Iran.
Sejarah panjang ini akan dibahas satu per satu dalam seri artikel berikutnya.
Mengapa Kaum Muslimin Perlu Memahami Hakikat Syiah?
Islam memerintahkan kaum muslimin untuk berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman generasi terbaik umat ini. Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka.”
Karena itu, penting bagi kaum muslimin untuk mengenali berbagai penyimpangan yang muncul setelah masa para shahabat, termasuk penyimpangan Syiah Rafidhah.
Tujuannya bukan untuk menimbulkan fanatisme atau permusuhan tanpa ilmu — tetapi agar kaum muslimin mengenal kebenaran, berhati-hati terhadap penyimpangan, dan tetap berada di atas manhaj yang selamat, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama‘ah.
Artikel berikutnya: Bangsa Persia sebelum Islam — bangsa besar yang jatuh, lalu memilih balas dendam.