Di artikel sebelumnya, kita mengenal Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh yang meletakkan fondasi ideologi Syiah. Tapi sebelum sampai ke sana, ada pertanyaan yang perlu dijawab lebih dulu: tanah mana yang membuatnya begitu mudah menemukan pengikut? Jawabannya ada pada bangsa Persia.
Siapakah Bangsa Persia Sebelum Islam Datang?
Sebelum kita bicara Syiah, kita perlu mengenal satu bangsa yang namanya tidak pernah bisa dipisahkan dari sejarah gerakan ini: bangsa Persia. Dalam peta dunia kuno, Persia adalah kekuatan besar. Mereka berkuasa selama beratus-ratus tahun, dengan peradaban yang megah dan kerajaan yang disegani. Agama mereka adalah Majusi — keyakinan yang menjadikan api sebagai objek peribadatan. (Lihat: al-Milal wan-Nihal, asy-Syahrastani, 1/227)
Tapi kemegahan itu berakhir. Dan cara ia berakhir meninggalkan luka yang sangat dalam. Kerajaan Sasaniyah Persia runtuh akibat dua kekalahan besar: Perang Qadisiyah (14 H/635 M) dan jatuhnya ibu kota Madain (16 H/637 M). (Lihat: al-Bidayah wan-Nihayah, 7/139 dan 7/170)
Apa yang Terjadi di Perang Qadisiyah — dan Kenapa Ini Penting?
Pada tahun 14 H/635 M, terjadilah peperangan dahsyat di Qadisiyah. Di satu sisi: pasukan kaum muslimin yang dikirim oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Di sisi lain: pasukan Persia yang gagah dan terorganisir. Hasilnya mengejutkan dunia — pasukan muslimin berhasil meluluhlantakkan Persia. Kejayaan yang telah berdiri ratusan tahun itu runtuh dalam satu pertempuran. (Lihat: al-Bidayah wan-Nihayah, 7/139)
Dua tahun kemudian, pada 16 H/637 M, ibu kota Persia — Kota Madain — ikut ditaklukkan atas perintah Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu. Dengan jatuhnya Madain, Kerajaan Majusi Persia pun lenyap total. Yang tersisa hanyalah kesedihan mendalam dan dendam membara di dada orang-orang Persia. (Lihat: al-Bidayah wan-Nihayah, 7/170)
Bagaimana Dendam Itu Akhirnya Meledak?
Dendam tidak perlu waktu lama untuk menemukan jalan keluarnya. Pada tahun 23 H/643 M, seseorang bernama Abu Lu’lu’ah Fairuz — seorang budak Persia — melancarkan aksi teror yang menggemparkan. Ia menikam Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu dengan pisau beracun saat beliau mengimami shalat Subuh. Umar radhiyallahu ‘anhu tersungkur bersimbah darah di dalam masjid. Beberapa jamaah lain pun ikut terluka dan terbunuh. Abu Lu’lu’ah sendiri kemudian bunuh diri. (Lihat: al-Bidayah wan-Nihayah, 7/268)
Yang membuat fakta ini semakin berat untuk dicerna: Abu Lu’lu’ah tidak dilupakan oleh kaum Syiah. Sebaliknya, ia diagungkan. Mereka menyebutnya pahlawan — seseorang yang berhasil “membalas” kekalahan Persia. Kuburannya di Kota Kashan, Provinsi Asfahan, Iran, hingga hari ini masih dikunjungi dan dipuja oleh penganut Syiah. Inilah wajah pertama dari dendam yang diwariskan lintas generasi.
Catatan: Artikel selanjutnya dalam seri ini akan membahas siapa Abdullah bin Saba’ — tokoh Yahudi yang memanfaatkan luka Persia untuk membangun gerakan yang kita kenal sebagai Syiah.