Jejak Syiah
BerandaSejarah
Penyimpangan Syiah
UlamaJejak di IndonesiaVideo
Referensi
Jejak Syiah

Pusat rujukan ilmiah untuk menelusuri, mendokumentasikan, dan menjelaskan penyimpangan Syiah berdasarkan dalil dan referensi terverifikasi.

للهِ الحَمْدُ وَحْدَه
YouTubeTikTok
Rubrik
  • Artikel Ilmiah
  • Syubhat & Jawaban
  • Video
  • Referensi Kitab
  • Tentang Kami
Referensi Utama
  • Minhaj as-Sunnah
  • Al-Syi'ah was Sunnah
  • Al-Khuthuth Al-'Aridhah
  • Fatwa MUI
  • Lisanul Mizan
Metodologi
  • Metode Ilmiah
  • Status Validasi
  • Tim Redaksi
  • Kirim Koreksi
© 2026 JejakSyiah — Konten bebas disebarkan untuk kepentingan dakwah ilmiah
YouTubeTikTok
Beranda/Artikel/Bangsa Persia dan Islam: Ketika Kekalahan Berubah Menjadi Dendam
☰ Baca Artikel▶ Mode Slide
Sejarah

Bangsa Persia dan Islam: Ketika Kekalahan Berubah Menjadi Dendam

⏱ 2 menit baca
Ringkasan

Bangsa Persia sebelum Islam — bangsa besar yang jatuh, dan memilih balas dendam.

Daftar Pembahasan
  1. 1.Siapakah Bangsa Persia Sebelum Islam Datang?
  2. 2.Apa yang Terjadi di Perang Qadisiyah — dan Kenapa Ini Penting?
  3. 3.Bagaimana Dendam Itu Akhirnya Meledak?

Di artikel sebelumnya, kita mengenal Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh yang meletakkan fondasi ideologi Syiah. Tapi sebelum sampai ke sana, ada pertanyaan yang perlu dijawab lebih dulu: tanah mana yang membuatnya begitu mudah menemukan pengikut? Jawabannya ada pada bangsa Persia.

Siapakah Bangsa Persia Sebelum Islam Datang?

Sebelum kita bicara Syiah, kita perlu mengenal satu bangsa yang namanya tidak pernah bisa dipisahkan dari sejarah gerakan ini: bangsa Persia. Dalam peta dunia kuno, Persia adalah kekuatan besar. Mereka berkuasa selama beratus-ratus tahun, dengan peradaban yang megah dan kerajaan yang disegani. Agama mereka adalah Majusi — keyakinan yang menjadikan api sebagai objek peribadatan. (Lihat: al-Milal wan-Nihal, asy-Syahrastani, 1/227)

Tapi kemegahan itu berakhir. Dan cara ia berakhir meninggalkan luka yang sangat dalam. Kerajaan Sasaniyah Persia runtuh akibat dua kekalahan besar: Perang Qadisiyah (14 H/635 M) dan jatuhnya ibu kota Madain (16 H/637 M). (Lihat: al-Bidayah wan-Nihayah, 7/139 dan 7/170)

Apa yang Terjadi di Perang Qadisiyah — dan Kenapa Ini Penting?

Pada tahun 14 H/635 M, terjadilah peperangan dahsyat di Qadisiyah. Di satu sisi: pasukan kaum muslimin yang dikirim oleh Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Di sisi lain: pasukan Persia yang gagah dan terorganisir. Hasilnya mengejutkan dunia — pasukan muslimin berhasil meluluhlantakkan Persia. Kejayaan yang telah berdiri ratusan tahun itu runtuh dalam satu pertempuran. (Lihat: al-Bidayah wan-Nihayah, 7/139)

Dua tahun kemudian, pada 16 H/637 M, ibu kota Persia — Kota Madain — ikut ditaklukkan atas perintah Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu. Dengan jatuhnya Madain, Kerajaan Majusi Persia pun lenyap total. Yang tersisa hanyalah kesedihan mendalam dan dendam membara di dada orang-orang Persia. (Lihat: al-Bidayah wan-Nihayah, 7/170)

Bagaimana Dendam Itu Akhirnya Meledak?

Dendam tidak perlu waktu lama untuk menemukan jalan keluarnya. Pada tahun 23 H/643 M, seseorang bernama Abu Lu’lu’ah Fairuz — seorang budak Persia — melancarkan aksi teror yang menggemparkan. Ia menikam Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu dengan pisau beracun saat beliau mengimami shalat Subuh. Umar radhiyallahu ‘anhu tersungkur bersimbah darah di dalam masjid. Beberapa jamaah lain pun ikut terluka dan terbunuh. Abu Lu’lu’ah sendiri kemudian bunuh diri. (Lihat: al-Bidayah wan-Nihayah, 7/268)

Yang membuat fakta ini semakin berat untuk dicerna: Abu Lu’lu’ah tidak dilupakan oleh kaum Syiah. Sebaliknya, ia diagungkan. Mereka menyebutnya pahlawan — seseorang yang berhasil “membalas” kekalahan Persia. Kuburannya di Kota Kashan, Provinsi Asfahan, Iran, hingga hari ini masih dikunjungi dan dipuja oleh penganut Syiah. Inilah wajah pertama dari dendam yang diwariskan lintas generasi.

Catatan: Artikel selanjutnya dalam seri ini akan membahas siapa Abdullah bin Saba’ — tokoh Yahudi yang memanfaatkan luka Persia untuk membangun gerakan yang kita kenal sebagai Syiah.
Baca Juga
Apa itu Syiah?

Ringkasan Artikel: "Apa Itu Syiah?" Artikel ini membahas empat poin utama: 1. Asal kata dan waktu kemunculan Syiah Kata syiah secara bahasa berarti pengikut atau pembela. Syiah sebagai kelompok dengan keyakinan khusus — imamah, imam maksum, Rafidhah — tidak ada di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam, melainkan muncul puluhan tahun setelah wafatnya beliau. 2. Peran Abdullah bin Saba' Tokoh kunci di balik kemunculan Syiah adalah Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam. Fakta ini bukan dari musuh Syiah, melainkan dari kitab-kitab ulama Syiah sendiri — ath-Thusi dan an-Nubakhati. Agitasinya berujung pada terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. 3. Hubungan Persia dan Syiah Iran identik dengan Syiah karena Dinasti Safawi menjadikannya mazhab resmi negara. Namun akarnya jauh lebih dalam — bermula dari runtuhnya Kerajaan Persia di tangan kaum muslimin pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. 4. Urgensi memahami Syiah Kaum muslimin perlu mengenali penyimpangan Syiah Rafidhah bukan untuk permusuhan, melainkan agar tetap berpegang pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah sesuai pemahaman generasi terbaik umat.

Baca artikel →
Kenapa Penting Mempelajari Sejarah Syiah?

Mempelajari sejarah Syiah penting agar seorang muslim tidak tertipu oleh slogan lahiriah seperti “cinta Ahlul Bait”, “persatuan umat”, atau klaim pembelaan terhadap Islam. Sejarah membantu membuka akar pemikiran, asal-usul keyakinan, tokoh-tokoh yang menyebarkannya, serta bagaimana penyimpangan itu berkembang hingga berpengaruh sampai hari ini. Dengan mempelajarinya, seorang muslim dapat membedakan antara Islam yang dibawa Nabi ﷺ dan para sahabat dengan keyakinan yang muncul belakangan. Karena itu, para ulama Ahlus Sunnah membahas dan membantah Syiah bukan karena fanatisme atau permusuhan buta, tetapi karena penyimpangannya menyentuh perkara aqidah, kedudukan sahabat, keyakinan tentang imam, dan sebagian riwayat mereka tentang Al-Qur’an. Mengenal kebatilan bukan berarti mencarinya untuk diikuti, tetapi agar selamat darinya. Sebagaimana Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang keburukan karena takut terjatuh ke dalamnya. Maka tujuan mempelajari sejarah Syiah adalah menjaga aqidah di atas ilmu, tidak mudah terbawa emosi, dan memahami kebenaran dengan dalil, bukan sekadar perasaan.

Baca artikel →
Tonton Video
Syiah Merendahkan Para Nabi
S006
Syiah Merendahkan Para Nabi
Jelajahi Topik
AkidahImamahTaqiyyahMut'ahAl-Qur'anSahabatAhlul BaitSejarah