“Ngapain Bahas Syiah? Bukannya Itu Cuma Sejarah Lama?”
Mungkin Anda termasuk yang bertanya demikian? atau
“Kenapa harus mempelajari sejarah Syiah?”
“Bukannya lebih baik fokus ibadah saja?”
“Atau… jangan-jangan ini cuma untuk mencari permusuhan?”
Pertanyaan semacam ini sering muncul.
Apalagi di era media sosial…
semua hal dibuat singkat…
emosional…
dan serba instan.
Padahal…
sejarah bukan sekadar cerita masa lalu.
Sejarah adalah penjelasan:
- bagaimana sebuah pemikiran muncul,
- siapa tokoh yang menyebarkannya,
- dan bagaimana pengaruhnya sampai hari ini.
Allah Ta’ala sendiri memerintahkan manusia untuk mengambil pelajaran dari sejarah.
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Yusuf: 111)
Jadi…
mempelajari sejarah Syiah bukan sekadar membahas masa lalu.
Tapi memahami:
- akar pemikiran,
- asal keyakinan,
- dan bagaimana penyimpangan bisa berkembang.
“Memangnya Penting Tahu Sejarahnya?”
Sangat penting.
Karena banyak orang hanya melihat tampilan luarnya.
Misalnya:
“Syiah itu cinta Ahlul Bait.”
Kalimat ini terdengar indah.
Tapi pertanyaannya:
Apa semua yang mengatasnamakan cinta Ahlul Bait otomatis benar?
Kalau seseorang tidak mempelajari sejarah…
ia hanya melihat slogan.
Padahal sejarah akan membuka:
- bagaimana asal mula keyakinannya,
- bagaimana perkembangan ajarannya,
- dan apa saja yang sebenarnya diyakini.
Contohnya:
- Apakah keyakinan imam maksum dikenal di zaman Nabi ﷺ?
- Apakah keyakinan bahwa imam mengetahui perkara gaib diajarkan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum?
- Apakah mencela mayoritas sahabat merupakan ajaran Islam?
- Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak cukup dijawab dengan slogan.
- Harus dibuka sejarah dan literaturnya.
“Bukannya Syiah dan Sunni Sama-sama Islam?”
Pertanyaan ini juga sering muncul.
Jawabannya:
Ada perkara yang memang sama.
Tetapi ada pula perbedaan aqidah yang sangat mendasar yang menyebabkan sebagian kelompok Syiah keluar dari Islam.
Dan perbedaan itu tidak bisa dipahami kalau seseorang tidak mengetahui sejarah.
Karena sebagian keyakinan Syiah berkembang secara bertahap.
Tidak muncul sekaligus.
Ada tokoh-tokoh tertentu…
ada peristiwa tertentu…
dan ada pengaruh politik tertentu.
Karena itu para ulama sejak dahulu membahas sejarah firqah-firqah.
Bukan untuk sensasi.
Tetapi agar umat memahami:
mana Islam yang dibawa Nabi ﷺ,
dan mana keyakinan yang muncul belakangan.
“Kenapa Banyak Ulama Membantah Syiah?”
Karena mereka melihat dampaknya terhadap aqidah.
Bukan sekadar perbedaan politik.
Sebagian ulama besar yang membahas penyimpangan Syiah adalah:
- Imam Ahmad bin Hanbal, ulama Ahlus Sunnah abad ke-3 H
- Imam Al-Barbahari, ulama Hanbali abad ke-4 H
- Ibnu Taimiyah, ulama Islam abad ke-8 H
- Adz-Dzahabi, ahli sejarah dan hadits Islam
- Ibnu Katsir, ulama ahli tafsir
rahimahumullahu ‘ajmain.
Mereka membahas:
- sikap Syiah terhadap sahabat,
- keyakinan tentang imam,
- sebagian riwayat Syiah tentang Al-Qur’an,
- dan berbagai penyimpangan lainnya.
Kalau masalahnya ringan…
tentu para ulama tidak akan menghabiskan waktu berabad-abad untuk membahasnya.
“Apa Manfaatnya Membahas Kesesatan?”
Mengenal kebatilan diperlukan agar tidak terjatuh ke dalamnya.
Hudzaifah bin Al-Yaman, sahabat Nabi Muhammad ﷺ, pernah berkata:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي
“Dahulu orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan karena khawatir terjatuh ke dalamnya.”
(Shahih Al-Bukhari no. 3606, Shahih Muslim no. 1847)
Artinya…
memahami penyimpangan bukan untuk ikut menyimpang.
Tetapi agar lebih waspada.
Sama seperti seseorang mempelajari bahaya racun.
Bukan untuk meminumnya.
Tetapi agar tidak tertipu.
“Jadi Tujuan Belajar Sejarah Syiah Itu Apa?”
Agar seorang muslim:
- memahami sejarah secara ilmiah,
- tidak tertipu slogan,
- mengenal akar penyimpangan,
- dan lebih memahami kemurnian ajaran Islam.
Bukan untuk fanatik.
Bukan pula untuk kebencian buta.
Tetapi untuk menjaga aqidah di atas ilmu.
Karena Islam dibangun di atas dalil.
Bukan sekadar perasaan.
Penutup
Banyak orang mengira bahwa pembahasan tentang sejarah Syiah hanyalah pembahasan politik masa lalu yang tidak lagi relevan. Sebagian bahkan menganggap pembahasannya hanya akan memecah belah umat. Padahal kenyataannya, sejarah memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, keyakinan, dan sikap seseorang terhadap agama.
Allah Ta’ala sendiri memerintahkan kaum muslimin untuk mengambil pelajaran dari umat-umat terdahulu. Kisah bukan sekadar cerita, tetapi sarana agar manusia memahami sebab-sebab hidayah dan kesesatan.
Allah Ta’ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sungguh pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.”
(QS. Yusuf: 111)
Karena itu, mempelajari sejarah Syiah bukanlah sekadar membuka lembaran masa lalu, tetapi memahami akar pemikiran, sumber keyakinan, serta perjalanan munculnya berbagai penyimpangan yang terus berpengaruh hingga hari ini.