Mengapa istilah taqiyyah sering dikaitkan dengan ajaran Syiah?
Benarkah istilah taqiyyah memang mengajarkan kebohongan?
Ataukah sebenarnya istilah ini juga ada dalam Islam?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering muncul ketika membahas Syiah. Sebab salah satu istilah yang paling dikenal dari mereka adalah taqiyyah.
Sebagian orang mencoba membela konsep ini dengan mengatakan:
“Bukankah ‘Ammar bin Yasir juga melakukan taqiyyah?”
Lalu benarkah demikian?
Apakah taqiyyah Syiah sama dengan keringanan yang Allah berikan kepada sahabat Nabi ﷺ tersebut?
Untuk menjawabnya, kita perlu memahami terlebih dahulu:
- apa arti taqiyyah,
- bagaimana Islam memandangnya,
- dan bagaimana kedudukannya dalam ajaran Syiah Rafidhah.
Apa Arti Taqiyyah?
Secara bahasa, kata taqiyyah berasal dari akar kata:
وقى
yang bermakna:
menjaga atau melindungi diri.
Karena itu, secara asal bahasa, istilah ini tidak selalu bermakna buruk.
Namun pertanyaannya:
bagaimana penggunaannya dalam syariat Islam?
Apakah Islam Membolehkan Menyembunyikan Keimanan?
Ya, Islam membolehkan seorang muslim menyembunyikan keimanannya dalam kondisi tertentu. Namun, pembolehan ini bukan dalam keadaan bebas, bukan pula untuk kepentingan tipu daya, penyamaran ajaran, atau strategi menyembunyikan keyakinan batil.
Pembolehan ini berlaku ketika seorang muslim berada dalam keadaan terpaksa, menghadapi ancaman nyata, sementara hatinya tetap kokoh di atas keimanan.
Inilah titik penting yang harus dipahami.
Islam membolehkan seseorang menyembunyikan al-haq ketika nyawa atau keselamatannya benar-benar terancam. Bukan menyembunyikan kebatilan agar tampak sebagai kebenaran.
Allah Ta‘ala berfirman:
إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
“Kecuali orang yang dipaksa, sedangkan hatinya tetap tenang dalam keimanan.”
(QS. An-Nahl: 106)
Ayat ini berkaitan dengan kisah sahabat Nabi ﷺ, Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu. Beliau dipaksa oleh kaum musyrikin untuk mengucapkan kalimat kufur, dalam keadaan mendapatkan tekanan dan ancaman.
Maka kasus Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu bukan dalil untuk membenarkan penyembunyian ajaran batil. Justru kisah beliau menunjukkan bahwa keringanan tersebut hanya berlaku dalam keadaan darurat, ketika seseorang dipaksa, dan hatinya tetap meyakini al-Haq dan beriman kepada Allah.
Dengan demikian, ada tiga batas utama dalam pembahasan ini:
Pertama, ada keadaan darurat.
Kedua, ada paksaan atau ancaman nyata.
Ketiga, hati tetap tenang di atas keimanan.
Di luar batas ini, tidak boleh seseorang menjadikan ayat tersebut sebagai pembenaran untuk menyamarkan agama, menyembunyikan penyimpangan, atau menampilkan sesuatu yang berbeda dari keyakinan batil yang ia pegang.
Lalu Mengapa Taqiyyah Syiah Dipermasalahkan?
Di sinilah letak perbedaannya.
Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu:
menyembunyikan al-haq karena terpaksa, demi menjaga nyawa.
Sedangkan Syiah Rafidhah:
menyembunyikan kesesatan sebagai prinsip untuk menjaga keyakinan batil mereka.
Karena itu, menyamakan keduanya adalah kesalahan fatal.
Yang pertama adalah:
rukhshah dalam keadaan darurat.
Sedangkan yang kedua dijadikan:
prinsip ajaran dan metode menyembunyikan keyakinan batil.
Seberapa Besar Kedudukan Taqiyyah dalam Syiah?
Dalam literatur Syiah sendiri, taqiyyah memiliki kedudukan yang sangat besar.
Disebutkan dalam kitab Al-Kafi:
التَّقِيَّةُ دِينِي وَدِينُ آبَائِي
“Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku.”
Bahkan dalam sebagian riwayat mereka disebutkan:
لَا دِينَ لِمَنْ لَا تَقِيَّةَ لَهُ
“Tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki taqiyyah.”
Maka konsep ini bukan sekadar kondisi darurat, tetapi dijadikan bagian penting dari agama mereka.