Jejak Syiah
BerandaSejarah
Penyimpangan Syiah
UlamaJejak di IndonesiaVideo
Referensi
Jejak Syiah

Pusat rujukan ilmiah untuk menelusuri, mendokumentasikan, dan menjelaskan penyimpangan Syiah berdasarkan dalil dan referensi terverifikasi.

للهِ الحَمْدُ وَحْدَه
YouTubeTikTok
Rubrik
  • Artikel Ilmiah
  • Syubhat & Jawaban
  • Video
  • Referensi Kitab
  • Tentang Kami
Referensi Utama
  • Minhaj as-Sunnah
  • Al-Syi'ah was Sunnah
  • Al-Khuthuth Al-'Aridhah
  • Fatwa MUI
  • Lisanul Mizan
Metodologi
  • Metode Ilmiah
  • Status Validasi
  • Tim Redaksi
  • Kirim Koreksi
© 2026 JejakSyiah — Konten bebas disebarkan untuk kepentingan dakwah ilmiah
YouTubeTikTok
Beranda/Artikel/Apa Itu Taqiyyah?
☰ Baca Artikel▶ Mode Slide
Taqiyyah

Apa Itu Taqiyyah?

⏱ 2 menit baca
Ringkasan

Taqiyyah secara bahasa bermakna menjaga atau melindungi diri. Dalam Islam, menyembunyikan keimanan hanya dibolehkan saat terpaksa, berada dalam ancaman nyata, dan hati tetap beriman, sebagaimana kisah ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu dalam QS. An-Nahl: 106.

Berbeda dengan taqiyyah dalam Syiah Rafidhah. Mereka menjadikan taqiyyah sebagai prinsip utama ajaran Syiah, untuk menyembunyikan keyakinan batil mereka.

Karena itu, menyamakan taqiyyah Syiah dengan keringanan yang diberikan kepada ‘Ammar bin Yasir adalah kesalahan fatal.

Daftar Pembahasan
  1. 1.Apa Arti Taqiyyah?
  2. 2.Apakah Islam Membolehkan Menyembunyikan Keimanan?
  3. 3.Lalu Mengapa Taqiyyah Syiah Dipermasalahkan?
  4. 4.Seberapa Besar Kedudukan Taqiyyah dalam Syiah?

Mengapa istilah taqiyyah sering dikaitkan dengan ajaran Syiah?

Benarkah istilah taqiyyah memang mengajarkan kebohongan?

Ataukah sebenarnya istilah ini juga ada dalam Islam?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering muncul ketika membahas Syiah. Sebab salah satu istilah yang paling dikenal dari mereka adalah taqiyyah.

Sebagian orang mencoba membela konsep ini dengan mengatakan:

“Bukankah ‘Ammar bin Yasir juga melakukan taqiyyah?”

Lalu benarkah demikian?

Apakah taqiyyah Syiah sama dengan keringanan yang Allah berikan kepada sahabat Nabi ﷺ tersebut?

Untuk menjawabnya, kita perlu memahami terlebih dahulu:

  • apa arti taqiyyah,
  • bagaimana Islam memandangnya,
  • dan bagaimana kedudukannya dalam ajaran Syiah Rafidhah.

Apa Arti Taqiyyah?

Secara bahasa, kata taqiyyah berasal dari akar kata:

وقى

yang bermakna:

menjaga atau melindungi diri.

Karena itu, secara asal bahasa, istilah ini tidak selalu bermakna buruk.

Namun pertanyaannya:

bagaimana penggunaannya dalam syariat Islam?


 

Apakah Islam Membolehkan Menyembunyikan Keimanan?

Ya, Islam membolehkan seorang muslim menyembunyikan keimanannya dalam kondisi tertentu. Namun, pembolehan ini bukan dalam keadaan bebas, bukan pula untuk kepentingan tipu daya, penyamaran ajaran, atau strategi menyembunyikan keyakinan batil.

Pembolehan ini berlaku ketika seorang muslim berada dalam keadaan terpaksa, menghadapi ancaman nyata, sementara hatinya tetap kokoh di atas keimanan.

Inilah titik penting yang harus dipahami.

Islam membolehkan seseorang menyembunyikan al-haq ketika nyawa atau keselamatannya benar-benar terancam. Bukan menyembunyikan kebatilan agar tampak sebagai kebenaran.

Allah Ta‘ala berfirman:

إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ

“Kecuali orang yang dipaksa, sedangkan hatinya tetap tenang dalam keimanan.”
(QS. An-Nahl: 106)

Ayat ini berkaitan dengan kisah sahabat Nabi ﷺ, Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu. Beliau dipaksa oleh kaum musyrikin untuk mengucapkan kalimat kufur, dalam keadaan mendapatkan tekanan dan ancaman.

Maka kasus Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu bukan dalil untuk membenarkan penyembunyian ajaran batil. Justru kisah beliau menunjukkan bahwa keringanan tersebut hanya berlaku dalam keadaan darurat, ketika seseorang dipaksa, dan hatinya tetap meyakini al-Haq dan beriman kepada Allah.

Dengan demikian, ada tiga batas utama dalam pembahasan ini:

Pertama, ada keadaan darurat.

Kedua, ada paksaan atau ancaman nyata.

Ketiga, hati tetap tenang di atas keimanan.

Di luar batas ini, tidak boleh seseorang menjadikan ayat tersebut sebagai pembenaran untuk menyamarkan agama, menyembunyikan penyimpangan, atau menampilkan sesuatu yang berbeda dari keyakinan batil yang ia pegang.


Lalu Mengapa Taqiyyah Syiah Dipermasalahkan?

Di sinilah letak perbedaannya.

Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu:
menyembunyikan al-haq karena terpaksa, demi menjaga nyawa.

Sedangkan Syiah Rafidhah:
menyembunyikan kesesatan sebagai prinsip untuk menjaga keyakinan batil mereka.

Karena itu, menyamakan keduanya adalah kesalahan fatal.

Yang pertama adalah:

rukhshah dalam keadaan darurat.

Sedangkan yang kedua dijadikan:

prinsip ajaran dan metode menyembunyikan keyakinan batil.


Seberapa Besar Kedudukan Taqiyyah dalam Syiah?

Dalam literatur Syiah sendiri, taqiyyah memiliki kedudukan yang sangat besar.

Disebutkan dalam kitab Al-Kafi:

التَّقِيَّةُ دِينِي وَدِينُ آبَائِي

“Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku.”

Bahkan dalam sebagian riwayat mereka disebutkan:

لَا دِينَ لِمَنْ لَا تَقِيَّةَ لَهُ

“Tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki taqiyyah.”

Maka konsep ini bukan sekadar kondisi darurat, tetapi dijadikan bagian penting dari agama mereka.

Baca Juga
Bangsa Persia dan Islam: Ketika Kekalahan Berubah Menjadi Dendam

Bangsa Persia sebelum Islam — bangsa besar yang jatuh, dan memilih balas dendam.

Baca artikel →
Apa itu Syiah?

Ringkasan Artikel: "Apa Itu Syiah?" Artikel ini membahas empat poin utama: 1. Asal kata dan waktu kemunculan Syiah Kata syiah secara bahasa berarti pengikut atau pembela. Syiah sebagai kelompok dengan keyakinan khusus — imamah, imam maksum, Rafidhah — tidak ada di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam, melainkan muncul puluhan tahun setelah wafatnya beliau. 2. Peran Abdullah bin Saba' Tokoh kunci di balik kemunculan Syiah adalah Abdullah bin Saba', seorang Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam. Fakta ini bukan dari musuh Syiah, melainkan dari kitab-kitab ulama Syiah sendiri — ath-Thusi dan an-Nubakhati. Agitasinya berujung pada terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. 3. Hubungan Persia dan Syiah Iran identik dengan Syiah karena Dinasti Safawi menjadikannya mazhab resmi negara. Namun akarnya jauh lebih dalam — bermula dari runtuhnya Kerajaan Persia di tangan kaum muslimin pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu. 4. Urgensi memahami Syiah Kaum muslimin perlu mengenali penyimpangan Syiah Rafidhah bukan untuk permusuhan, melainkan agar tetap berpegang pada manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah sesuai pemahaman generasi terbaik umat.

Baca artikel →
Kenapa Penting Mempelajari Sejarah Syiah?

Mempelajari sejarah Syiah penting agar seorang muslim tidak tertipu oleh slogan lahiriah seperti “cinta Ahlul Bait”, “persatuan umat”, atau klaim pembelaan terhadap Islam. Sejarah membantu membuka akar pemikiran, asal-usul keyakinan, tokoh-tokoh yang menyebarkannya, serta bagaimana penyimpangan itu berkembang hingga berpengaruh sampai hari ini. Dengan mempelajarinya, seorang muslim dapat membedakan antara Islam yang dibawa Nabi ﷺ dan para sahabat dengan keyakinan yang muncul belakangan. Karena itu, para ulama Ahlus Sunnah membahas dan membantah Syiah bukan karena fanatisme atau permusuhan buta, tetapi karena penyimpangannya menyentuh perkara aqidah, kedudukan sahabat, keyakinan tentang imam, dan sebagian riwayat mereka tentang Al-Qur’an. Mengenal kebatilan bukan berarti mencarinya untuk diikuti, tetapi agar selamat darinya. Sebagaimana Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang keburukan karena takut terjatuh ke dalamnya. Maka tujuan mempelajari sejarah Syiah adalah menjaga aqidah di atas ilmu, tidak mudah terbawa emosi, dan memahami kebenaran dengan dalil, bukan sekadar perasaan.

Baca artikel →
Tonton Video
Syiah Merendahkan Para Nabi
S006
Syiah Merendahkan Para Nabi
Jelajahi Topik
AkidahImamahTaqiyyahMut'ahAl-Qur'anSahabatAhlul BaitSejarah